Memaafkan Diri Sendiri!
Oleh: Anthony Dio Martin *
Ketika Lebaran tiba, ada seorang Bapak yang tampaknya kurang antusias. Padahal, puasa sudah ia lewati, dan seharusnya ini menjadi hari kemenangannya. Dari luar, ia tampak sibuk bersilaturahmi dan mengunjungi saudara-saudaranya. Pokoknya, ia mengikuti ritual Lebaran, namun hatinya, tidak disitu. Dan setelah beberapa hari Lebaran lewat akhirnya si Bapak ini berkeluh kesah pada seorang temannya. “Kenapa ya, kita sudah bermaaf-maafan, dan saya pun sudah meminta maaf maupun memaafkan orang yang salah pada saya”, katanya menghela nafas panjang, “Tetapi.. .tetap saja saya tidak merasakan adanya damai di hati saya”. Temannya yang mendengarkannya dengan tenang, berpikir sejenak lalu mengomentari, “Kawan, mungkin itu disebabkan karena kamu sendiri belum memaafkan dirimu!”
Begitulah para Pembaca. Tradisi maaf-memaafkan pada saat Hari Raya Lebaran yang menyehatkan secara mental dan spiritual ini, seringkali berwujud sebagai suatu seremonial belaka. Padahal, berbagai tulisan dan penelitan mengemukakan bahwa pemaafan, bukan saja diperintah oleh agama, tetapi secara psikologis, juga sangat menyehatkan.
Baru-baru ini, majalah populer psikologi terkenal di dunia yakni Psychology Today, menulis soal forgiveness ataupun pemaafan, khususnya soal pemaafan diri. Tulisan ini melansir kembali penelitian Stanford Forgiveness Project yang dipimpin oleh Dr.Luskin. Hasilnya, setelah 6 bulan belajar teknik dan filosofi memaafkan, mereka yang yang akhirnya betul-betul memaafkan, mampu hidup lebih sehat dan bahkan 70% merasa lebih bahagia. Menariknya, salah satu bagian dari proses pemaafan yang justru menjadi kuncinya adalah tatkala ketika dari sekitar 259 peserta penelitian ini belajar untuk memaafkan diri mereka terlebih dahulu.
MENGAPA MEMAAFKAN DIRI?
Seringkali dikatakan bahwa kunci memaafkan orang lain adalah memaafkan diri sendiri. Terkadang, kita bertemu dengan orang yang lebih mudah memberi ampunan dan maaf pada orang lain, tetapi terus-menerus menyiksa dirinya dengan kasalahan atau pun kegagalan yang pernah mereka lakukan di masa lampau.
Saya pun teringat kisah dalam film “Eat, Pray and Love” yang diperankan Julia Robert. Di kisahkan, dalam perjalanannya ke India, ia bertemu dengan seorang bapak bernama Richard dari Texas yang keluarganya hancur bahkan ia meceritakan kisah tragis tentang kesalahan yang ia perbuat terhadap keluarganya. Akibatnya, begitu lamanya si Richard ini tidak bisa berdamai dengan dirinya. Dan meski pun jauh-jauh dari Texas hingga ke India, Richard mengakui ia belum bisa memaafkan dirinya.
Mirip kisah ini, saya pun pernah mendengar konseling dari seorang wanita yang mengatakan bagaimana ia sulit memaafkan dirinya gara-gara menyebabkan ibunya stroke yang akhirnya meninggal. Ia mengatakan ketika bertahun-tahun yang silam ia pernah dilarang ibunya berhubungan dengan seorang pria. Karena kesal, ia pun membentak dan bertengkar hebat dengan Ibunya. Ternyata, malamnya si Ibu mengalami stroke dan beberapa hari kemudian, meninggal.
Seperti kisah-kisah di atas, kita bisa melihat bahwa, terkadang jauh lebih mudah bagi kita tatkala berhubungan dan memberi maaf pada orang lain. Namun, ketika ini telah menyangkut diri sendiri, tak mudah untuk melakukannya. Khususnya jika ini terkait dengan masa lalu atau kesalahan fatal, kebodohan, kelalaian, kecerobohan yang sangat sulit untuk kita lupakan.
Gary Zukav, salah seorang penulis pengembangan diri, dalam wawancara di acara TV Oprah Show beberapa tahun silam, menggunakan ilustrasi orang yang tidak memaafkan dirinya ibarat seperti orang yang terus memikul tas berat di pundaknya. Kemana-mana tanpa mau sedetik pun ia mau melepaskannya. Dengan cara memikul tas itu, menurut Zukav orang berpikir bahwa itulah cara untuk menghukum dan membebaskan dirinya dari kesalahan masa lalu. Tetapi, bukannya merdeka, justru orang semakin terpuruk dalam proses menghancurkan dirinya.
4 LANGKAH MEMAAFKAN DIRIMU!
Setiap orang berbuat salah, tetapi tidak semua orang mampu menerima dan berdamai dengan kesalahan itu. Ada baiknya kita pun belajar untuk mulai memaafkan diri kita sendiri, sebelum kita memaafkan dan meminta maaf dari orang lain. Dan semua proses itu harusnya dimulai dari keinginan kita untuk mengatakan, “Saya memberi izin pada diri Saya sendiri untuk sembuh”. Sebagai tips, ada empat langkah penting dalam rangka membereskan ‘tas-tas’ kesalahan masa lalu kita.
Pertama, membuka hati kembali. Ketika kita mulai diliputi rasa bersalah, rasa malu dan rasa penyesalan atas apa yang terjadi, kita mulai menyelimuti diri kita dengan kabut hitam. Tak mengherankan jika rasa penyesalan ini sering berakhir dengan pikiran ingin melukai diri sendiri, bunuh diri atau pun keinginan untuk mensabotase potensi maupun apa yang akan kita capai. Saya teringat dengan seorang Bapak tua pebisnis sukses yang setiap hari, dalam konselingnya berkata, “Buat apa saya sukses? Saya sukses tetapi anak saya narkoba. Ini gara-gara saya tidak menjaganya ketika masih kecil. Saya merusaknya demi ambisi saya”. Sebenarnya, si Bapak ini mestinya sadar mengulang-ulang kalimat semacam itu tidak akan ada gunanya. Jauh lebih baik bagi si Bapak ini untuk mulai berpikir, saatnya untuk STOP penghukuman diri ini dan memikirkan hal yang lebih baik dan lebih masuk akal untuk dilakukan.
Kedua, cobalah untuk mencintai diri kembali. Terkadang, apa yang membuat kita tidak bisa memaafkan diri adalah karena kita melihatnya dari posisi sekarang. Tetapi, jika kita kembali ke situasi waktu kejadian yang kita sesali terjadi, mungkin kita akan melihat bahwa kita tidak punya banyak pilihan atau tak jarang dalam kondisi yang terjepit. Akibatnya, kita pun terpojok untuk mengambil keputusan tersebut. Coba lah untuk melihat alasan lain yang mungkin bisa membuat diri Anda memaklumi bahkan mengerti, juga memaafkan diri Anda dalam situasi itu.
Ketiga, banyak orang berpikir bahwa dengan rasa bersalah atau rasa malu atau pun rasa penyesalan terus-menerus, ini berarti menunjukkan perasaan sayang kita. Inilah cara berpikir yang salah. Kita boleh merasa bersalah, tapi bukanlah berarti kita harus terus-menerus terjebak dalam rasa bersalah itu. Bisa jadi, orang yag kita buat salah pun, berharap kita menjadi bahagia dan tidak larut lagi dalam penyesalan dan penderitaan kita. Daripada hanya duduk menyesal, mungkin lebih baik kita arahkan rasa penyesalan itu dengan melakukan sesuatu yang lebih konkret dan positif.
Empat, mulailah melakukan sesuatu yang lebih positif. Ada seorang pemabuk yang pernah menabrak mati seorang bocah, akhirnya memutuskan untuk menghidupi keluarga bocah yang miskin itu. Bahkan, ia juga membangun panti asuhan untuk anak-anak yang kurang mampu. Begitu pula ada kisah seorang yang akhirnya menjadi dokter karena pernah menyebabkan cacat seumur hidup pada adiknya, gara-gara salah memberinya obat. Jadi pikirkanlah apa yang bisa dilakukan, daripada terus-menerus tenggelam dalam rasa penyesalan ini.
Akhirnya, semoga kita selalu ingat, sebelum kita minta maaf dan memaafkan orang lain, pastikan kita juga memaafkan diri kita sendiri!
* Anthony Dio Martin, Trainer, Motivator, Penulis buku-buku Bestseller
Sunday, January 22, 2012
Tuesday, January 10, 2012
JANJI
Sebuah sharing :
Istriku berkata kepadaku yang sedang membaca Koran: "berapa
lama lagi kamu baca koran itu?, tolong kamu ke sini dan bantu
anak perempuanmu tersayang untuk makan!".
Aku meletakkan Koran dan melihat anak perempuanku satu2nya,namanya
Sindu
tampak ketakutan,air matanya membanjir sementara didepannya
ada semangkuk nasi berisi nasi susu asam/yogurt (nasi khas
India/curd rice) Sindu anak yang manis dan termasuk pintar
dalam usianya yang baru 8 tahun. Dia sangat tidak suka makan
curd rice ini. Ibu dan istriku masih kuno, mereka percaya
sekali kalau makan curd rice ada "cooling effect" .
Aku mengambil mangkok dan berkata "Sindu sayang, demi ayah, maukah
kamu makan beberapa sendok curd rice ini? Kalau tidak ,nanti
Ibumu akan teriak2 sama Ayah".
Aku bisa merasakan istriku sedang cemberut dibelakang punggungku. Tangis
Sindu mereda dan ia menghapus air mata dengan tangannya dan berkata:
"Boleh
ayah akan saya makan curd rice ini tidak hanya beberapa sendok
tapi semuanya akan saya habiskan ,tapi saya akan minta .."
agak ragu2 sejenak, kemudian ia melanjutkan "akan minta
sesuatu sama ayah bila habis semua nasinya". "Apakah ayah mau
berjanji memenuhi permintaan saya?", aku menjawab "Oh pasti
sayang".
Sindu bertanya sekali lagi untuk memastikan: "Betul nih
ayah?". "Yah pasti", kataku sambil menggenggam tangan anakku
yang kemerah mudaan dan lembut sebagai tanda setuju.
Sindu juga mendesak ibunya untuk janji hal yang sama, istriku
menepuk tangan Sindu yang merengek sambil berkata tanpa
emosi, "Janji" kata istriku Aku sedikit khawatir dan berkata:
"Sindu jangan minta komputer atau barang2 lain yang mahal
yah,karena Ayah saat ini tidak punya uang".
Sindu menjawab :"Jangan khawatir ,Sindu tidak minta barang2
mahal kok"
Kemudian Sindu dengan perlahan-lahan mulai menghabiskan semua
nasi susu asam itu, kelihatannya ia sangat menderita. Dalam
hatiku aku marah terhadap istri dan ibuku yang memaksa Sindu
untuk memakan sesuatu yang tidak disukainya Setelah Sindu
melewati penderitaannya ,dia mendekatiku dengan mata penuh
harap dan semua perhatian (aku ,istriku dan juga ibuku)
tertuju kepadanya.
Ternyata Sindu mau kepalanya digundulin/dibotakin pada hari Minggu.
Istriku spontan berkata "permintaan gila , anak perempuan dibotakin,
tidak
mungkin!". Juga ibuku menggerutu jangan sampai terjadi dalam
keluarga kita, dia terlalu banyak nonton TV dan program2 TV
itu sudah merusak kebudayaan kita. Aku coba membujuk: "Sindu
kenapa kamu tidak minta hal yang lain kami semua akan sedih
melihatmu botak". Tapi Sindu tetap dengan pilihannya, "tidak
ada 'yah, tak ada keinginan lain" kata Sindu Aku coba
memohon kepada Sindu : "Tolonglah kenapa kamu tidak mencoba
untuk mengerti perasaan kami " Sindu dengan menangis berkata
: "Ayah sudah melihat bagaimana menderitanya saya
menghabiskan nasi susu asam itu dan Ayah sudah berjanji untuk
memenuhi permintaan saya kenapa Ayah sekarang mau menjilat
ludah sendiri?Bukankah Ayah sudah mengajarkan pelajaran moral
,bahwa kita harus memenuhi janji kita terhadap seseorang,
apapun yang terjadi, seperti Raja Harishchandra (raja India
jaman dahulu kala ) untuk memenuhi janjinya rela memberikan
tahta, harta/kekuasaannya, bahkan nyawa anaknya sendiri".
Sekarang aku memutuskan untuk memenuhi permintaan anakku :
"Janji kita harus ditepati"
Secara serentak istri dan ibuku berkata : apakah aku sudah
gila?
"Tidak" jawabku," kalau kita menjilat ludah sendiri, dia
tidak akan pernah belajar bagaimana menghargai dirinya
sendiri". "Sindu permintaanmu akan kami penuhi".
Dengan kepala botak, wajah Sindu nampak bundar dan matanya
besar dan bagus Hari Senin ,aku mengantarnya ke sekolah,
sekilas aku melihat Sindu botak berjalan ke kelasnya dan
melambaikan tangan kepadaku, sambil tersenyum aku membalas
lambaian tangannya. Tiba2 seorang anak laki2 keluar dari
mobil sambil berteriak "Sindu tolong tunggu saya!". Yang
mengejutkanku ternyata, kepala anak laki2 itu botak. Aku
berpikir mungkin"botak" model jaman sekarang . Tanpa
memperkenalkan dirinya seorang wanita keluar dari mobil dan
berkata: "Anak anda, Sindu benar2 hebat, anak laki2 yang jalan
bersama-sama dia sekarang, Harish adalah anak saya, dia
menderita kanker leukemia". Wanita itu berhenti sejenak,
"menangis tersedu-sedu, bulan lalu Harish tidak mau masuk
sekolah, karena pengobatan chemo therapy kepalanya menjadi
botak hingga dia tidak mau pergi kesekolah karena takut diejek
oleh teman2 sekelasnya". "Nah Minggu lalu Sindu datang
kerumah dan berjanji kepada anak saya untuk mengatasi ejekan
yang mungkin terjadi. Hanya saya betul2 tidak menyangka kalau
Sindu mau mengorbankan rambutnya yang indah untuk anakku
Harish" "Tuan dan istri tuan sungguh diberkati Tuhan mempunyai
anak perempuan yang berhati mulia".
Aku berdiri terpaku dan
aku menangis..... malaikat kecilku tolong ajarkanku tentang
Kasih
Istriku berkata kepadaku yang sedang membaca Koran: "berapa
lama lagi kamu baca koran itu?, tolong kamu ke sini dan bantu
anak perempuanmu tersayang untuk makan!".
Aku meletakkan Koran dan melihat anak perempuanku satu2nya,namanya
Sindu
tampak ketakutan,air matanya membanjir sementara didepannya
ada semangkuk nasi berisi nasi susu asam/yogurt (nasi khas
India/curd rice) Sindu anak yang manis dan termasuk pintar
dalam usianya yang baru 8 tahun. Dia sangat tidak suka makan
curd rice ini. Ibu dan istriku masih kuno, mereka percaya
sekali kalau makan curd rice ada "cooling effect" .
Aku mengambil mangkok dan berkata "Sindu sayang, demi ayah, maukah
kamu makan beberapa sendok curd rice ini? Kalau tidak ,nanti
Ibumu akan teriak2 sama Ayah".
Aku bisa merasakan istriku sedang cemberut dibelakang punggungku. Tangis
Sindu mereda dan ia menghapus air mata dengan tangannya dan berkata:
"Boleh
ayah akan saya makan curd rice ini tidak hanya beberapa sendok
tapi semuanya akan saya habiskan ,tapi saya akan minta .."
agak ragu2 sejenak, kemudian ia melanjutkan "akan minta
sesuatu sama ayah bila habis semua nasinya". "Apakah ayah mau
berjanji memenuhi permintaan saya?", aku menjawab "Oh pasti
sayang".
Sindu bertanya sekali lagi untuk memastikan: "Betul nih
ayah?". "Yah pasti", kataku sambil menggenggam tangan anakku
yang kemerah mudaan dan lembut sebagai tanda setuju.
Sindu juga mendesak ibunya untuk janji hal yang sama, istriku
menepuk tangan Sindu yang merengek sambil berkata tanpa
emosi, "Janji" kata istriku Aku sedikit khawatir dan berkata:
"Sindu jangan minta komputer atau barang2 lain yang mahal
yah,karena Ayah saat ini tidak punya uang".
Sindu menjawab :"Jangan khawatir ,Sindu tidak minta barang2
mahal kok"
Kemudian Sindu dengan perlahan-lahan mulai menghabiskan semua
nasi susu asam itu, kelihatannya ia sangat menderita. Dalam
hatiku aku marah terhadap istri dan ibuku yang memaksa Sindu
untuk memakan sesuatu yang tidak disukainya Setelah Sindu
melewati penderitaannya ,dia mendekatiku dengan mata penuh
harap dan semua perhatian (aku ,istriku dan juga ibuku)
tertuju kepadanya.
Ternyata Sindu mau kepalanya digundulin/dibotakin pada hari Minggu.
Istriku spontan berkata "permintaan gila , anak perempuan dibotakin,
tidak
mungkin!". Juga ibuku menggerutu jangan sampai terjadi dalam
keluarga kita, dia terlalu banyak nonton TV dan program2 TV
itu sudah merusak kebudayaan kita. Aku coba membujuk: "Sindu
kenapa kamu tidak minta hal yang lain kami semua akan sedih
melihatmu botak". Tapi Sindu tetap dengan pilihannya, "tidak
ada 'yah, tak ada keinginan lain" kata Sindu Aku coba
memohon kepada Sindu : "Tolonglah kenapa kamu tidak mencoba
untuk mengerti perasaan kami " Sindu dengan menangis berkata
: "Ayah sudah melihat bagaimana menderitanya saya
menghabiskan nasi susu asam itu dan Ayah sudah berjanji untuk
memenuhi permintaan saya kenapa Ayah sekarang mau menjilat
ludah sendiri?Bukankah Ayah sudah mengajarkan pelajaran moral
,bahwa kita harus memenuhi janji kita terhadap seseorang,
apapun yang terjadi, seperti Raja Harishchandra (raja India
jaman dahulu kala ) untuk memenuhi janjinya rela memberikan
tahta, harta/kekuasaannya, bahkan nyawa anaknya sendiri".
Sekarang aku memutuskan untuk memenuhi permintaan anakku :
"Janji kita harus ditepati"
Secara serentak istri dan ibuku berkata : apakah aku sudah
gila?
"Tidak" jawabku," kalau kita menjilat ludah sendiri, dia
tidak akan pernah belajar bagaimana menghargai dirinya
sendiri". "Sindu permintaanmu akan kami penuhi".
Dengan kepala botak, wajah Sindu nampak bundar dan matanya
besar dan bagus Hari Senin ,aku mengantarnya ke sekolah,
sekilas aku melihat Sindu botak berjalan ke kelasnya dan
melambaikan tangan kepadaku, sambil tersenyum aku membalas
lambaian tangannya. Tiba2 seorang anak laki2 keluar dari
mobil sambil berteriak "Sindu tolong tunggu saya!". Yang
mengejutkanku ternyata, kepala anak laki2 itu botak. Aku
berpikir mungkin"botak" model jaman sekarang . Tanpa
memperkenalkan dirinya seorang wanita keluar dari mobil dan
berkata: "Anak anda, Sindu benar2 hebat, anak laki2 yang jalan
bersama-sama dia sekarang, Harish adalah anak saya, dia
menderita kanker leukemia". Wanita itu berhenti sejenak,
"menangis tersedu-sedu, bulan lalu Harish tidak mau masuk
sekolah, karena pengobatan chemo therapy kepalanya menjadi
botak hingga dia tidak mau pergi kesekolah karena takut diejek
oleh teman2 sekelasnya". "Nah Minggu lalu Sindu datang
kerumah dan berjanji kepada anak saya untuk mengatasi ejekan
yang mungkin terjadi. Hanya saya betul2 tidak menyangka kalau
Sindu mau mengorbankan rambutnya yang indah untuk anakku
Harish" "Tuan dan istri tuan sungguh diberkati Tuhan mempunyai
anak perempuan yang berhati mulia".
Aku berdiri terpaku dan
aku menangis..... malaikat kecilku tolong ajarkanku tentang
Kasih
Monday, December 26, 2011
Tercenung dan terharu
membaca status salah seorang muslim yang tidak kukenal seperti ini. Dulu waktu aku masih di Indonesia tidak ada tuh haram mengucapkan selamat selamat. Sejak kapan berubahnya ya?
Salah satu Rukun Iman di dalam agama Islam adalah ; Beriman kepada Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul Allah, dan karenanya maka saya beriman atau percaya kepada adanya Rasulullah Isa 'alaihimussalaam ♥ Dan karena tanggal 25 Desember diyakini sebagai hari kelahirannya, maka kepada Saudara-Saudari saya yang beragama Nasrani, baik Katolik maupun Protestan, dengan setulus hati saya sekeluarga turut mengucapkan : SELAMAT HARI NATAL 2011 - DAMAI DI HATI DAMAI DI JAGAT RAYA INI ♥ ♥
Salah satu Rukun Iman di dalam agama Islam adalah ; Beriman kepada Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul Allah, dan karenanya maka saya beriman atau percaya kepada adanya Rasulullah Isa 'alaihimussalaam ♥ Dan karena tanggal 25 Desember diyakini sebagai hari kelahirannya, maka kepada Saudara-Saudari saya yang beragama Nasrani, baik Katolik maupun Protestan, dengan setulus hati saya sekeluarga turut mengucapkan : SELAMAT HARI NATAL 2011 - DAMAI DI HATI DAMAI DI JAGAT RAYA INI ♥ ♥
Wednesday, December 14, 2011
Gemuruh
Gemuruh ombak menderu berlomba menuju pantai
Bagaikan dua insan yang mencinta
Semenjak alam tercipta mereka saling mencinta
Indahnya betapa indah alam ini
O o o
Kami sudah diciptakan untuk saling mengasihi
Sadarlah sadarlah hai kau manusia
Bagaikan dua insan yang mencinta
Semenjak alam tercipta mereka saling mencinta
Indahnya betapa indah alam ini
O o o
Kami sudah diciptakan untuk saling mengasihi
Sadarlah sadarlah hai kau manusia
Cintailah sesamamu seperti dirimu sendiri
Bersama-sama kami nikmati apa yang dikaruniakanNya
Bersama-sama kami nikmati apa yang dikaruniakanNya
Three Sisters
© Francis I. Gillespie
We are three sisters
Three sisters are we
I love each of you,
And I know you love me
We’re not always together,
Life sometimes keeps us apart.
But we're never separated
We’re in each other's heart.
Now I know we've had our troubles,
But we always get thru.
The real message is you love me,
And I also love you.
We have had lots of good times
That we'll never forget
Sometimes we worry
And sometimes we fret
But if God ever gave me
Something special you see,
It might have been the blessing of,
Three sisters are we.
The Lord above has gave me lots
Of happiness and glee
But the most special thing He did was
Make us sisters, all three.
Wednesday, December 07, 2011
Sunday, November 20, 2011
Kakak Terbaik
Roy Angel adalah pendeta miskin yang memiliki kakak seorang milyuner. Pada tahun 1940, ketika bisnis minyak bumi sedang mengalami puncak, kakaknya menjual padang rumput di Texas pada waktu yang tepat dengan harga yang sangat tinggi.
Seketika itu kakak Roy Angel menjadi kaya raya. Setelah itu kakak Roy Angel menanam saham pada perusahaan besar dan memperoleh untung yang besar. Kini dia tinggal diapartemen mewah di New York dan memiliki kantor di Wallstreet. Seminggu sebelum Natal, kakaknya menghadiahi Roy Angel sebuah mobil baru yang mewah dan mengkilap.
Suatu pagi seorang anak gelandangan menatap mobilnya dengan penuh kekaguman. “Hai.. nak” sapa Roy Anak itu melihat pada Roy dan bertanya “Apakah ini mobil Tuan?” “Ya,” jawab Roy singkat. “Berapa harganya Tuan?” “Sesungguhnya saya tidak tahu harganya berapa”. “Mengapa Tuan tidak tahu harganya, bukankan Tuan yang punya mobil ini?” Gelandangan kecil itu bertanya penuh heran.
“Saya tidak tahu karena mobil ini hadiah dari kakak saya”
Mendengar jawaban itu mata anak itu melebar dan bergumam,”Seandainya…. seandainya…” Roy mengira ia tahu persis apa yang didambakan anak kecil itu, “Anak ini pasti berharap memiliki kakak yang sama seperti kakakku”.Ternyata Roy salah menduga, saat anak itu melanjutkan kata-katanya: Seandainya… seandainya saya dapat menjadi kakak seperti itu..” Dengan masih terheran-heran Roy mengajak anak itu berkeliling dengan mobilnya. Anak itu tak henti-henti memuji keindahan mobilnya.
Sampai satu kali anak itu berkata,”Tuan bersediakah Tuan mampir ke rumah saya ? Letaknya hanya beberapa blok dari sini”. Sekali lagi Roy mengira dia tahu apa yang ingin dilakukan anak ini. “Pasti anak ini ingin memperlihatkan pada teman-temannya bahwa ia telah naik mobil mewah” pikir Roy. “OK, mengapa tidak”, kata Roy sambil menuju arah rumah anak itu.Tiba di sudut jalan si anak gelandangan memohon pada Roy untuk berhenti sejenak, “Tuan, bersediakah Tuan menunggu sebentar? Saya akan segera kembali”
Anak itu berlari menuju rumah gubuknya yang sudah reot. Setelah menunggu hampir sepuluh menit, Roy mulai penasaran apa yang dilakukan anak itu dan keluar dari mobilnya, menatap rumah reot itu. Pada waktu itu ia mendengar suara kaki yang perlahan-lahan. Beberapa saat kemudian anak gelandangan itu keluar sambil menggendong adiknya yang lumpuh.
Setelah tiba di dekat mobil anak gelandangan itu berkata pada adiknya: “Lihat… seperti yang kakak bilang padamu. Ini mobil terbaru. Kakak Tuan ini menghadiahkannya pada Tuan ini. Suatu saat nanti kakak akan membelikan mobil seperti ini untukmu, jadi adiku tersayang, aku mau kamu jangan sedih, karena kakak mulai dari sekarang akan menabung dan bila kita sudah dewasa nanti kakak akan membelikan kamu sebuah mobil yang bagus. Kamu tidak akan lagi duduk di rumah sendiri, kakak akan antar kamu keliling kota melihat pemandangan yang indah ya" Anak itu memeluk adiknya yang cacat dengar tetes air mata kasih. "Adik aku begitu mencintaimu" sang adik yang lumpuh itu memeluk erat kakaknya dengan mata penuh cinta. Oh alangkah indahnya. .
Bukan karena keinginan seorang anak gelandangan yang hendak menghadiahkan mobil mewah untuk adiknya yang membuat Roy tak dapat menahan haru pada saat itu juga, tetapi karena ketulusan kasih seorang kakak yang selalu ingin memberi yang terbaik bagi adiknya. Seandainya saya dapat menjadi kakak seperti itu.
Terkadang kita lupa dan seringkali tidak menyadari, bahwa terkadang adik sendiri atau saudara sendiri tidak pernah kita perhatikan, bahwa kita malah merasa tersaingi atau iri atau marah kepada saudara kita, padahal mereka sebenarnya membutuhkan bantuan dari kita. Mari kita mulai memberikan kasih dari emut di seberang lautan tampak tetapi gajah di depan mata tidak tampak.
Seketika itu kakak Roy Angel menjadi kaya raya. Setelah itu kakak Roy Angel menanam saham pada perusahaan besar dan memperoleh untung yang besar. Kini dia tinggal diapartemen mewah di New York dan memiliki kantor di Wallstreet. Seminggu sebelum Natal, kakaknya menghadiahi Roy Angel sebuah mobil baru yang mewah dan mengkilap.
Suatu pagi seorang anak gelandangan menatap mobilnya dengan penuh kekaguman. “Hai.. nak” sapa Roy Anak itu melihat pada Roy dan bertanya “Apakah ini mobil Tuan?” “Ya,” jawab Roy singkat. “Berapa harganya Tuan?” “Sesungguhnya saya tidak tahu harganya berapa”. “Mengapa Tuan tidak tahu harganya, bukankan Tuan yang punya mobil ini?” Gelandangan kecil itu bertanya penuh heran.
“Saya tidak tahu karena mobil ini hadiah dari kakak saya”
Mendengar jawaban itu mata anak itu melebar dan bergumam,”Seandainya…. seandainya…” Roy mengira ia tahu persis apa yang didambakan anak kecil itu, “Anak ini pasti berharap memiliki kakak yang sama seperti kakakku”.Ternyata Roy salah menduga, saat anak itu melanjutkan kata-katanya: Seandainya… seandainya saya dapat menjadi kakak seperti itu..” Dengan masih terheran-heran Roy mengajak anak itu berkeliling dengan mobilnya. Anak itu tak henti-henti memuji keindahan mobilnya.
Sampai satu kali anak itu berkata,”Tuan bersediakah Tuan mampir ke rumah saya ? Letaknya hanya beberapa blok dari sini”. Sekali lagi Roy mengira dia tahu apa yang ingin dilakukan anak ini. “Pasti anak ini ingin memperlihatkan pada teman-temannya bahwa ia telah naik mobil mewah” pikir Roy. “OK, mengapa tidak”, kata Roy sambil menuju arah rumah anak itu.Tiba di sudut jalan si anak gelandangan memohon pada Roy untuk berhenti sejenak, “Tuan, bersediakah Tuan menunggu sebentar? Saya akan segera kembali”
Anak itu berlari menuju rumah gubuknya yang sudah reot. Setelah menunggu hampir sepuluh menit, Roy mulai penasaran apa yang dilakukan anak itu dan keluar dari mobilnya, menatap rumah reot itu. Pada waktu itu ia mendengar suara kaki yang perlahan-lahan. Beberapa saat kemudian anak gelandangan itu keluar sambil menggendong adiknya yang lumpuh.
Setelah tiba di dekat mobil anak gelandangan itu berkata pada adiknya: “Lihat… seperti yang kakak bilang padamu. Ini mobil terbaru. Kakak Tuan ini menghadiahkannya pada Tuan ini. Suatu saat nanti kakak akan membelikan mobil seperti ini untukmu, jadi adiku tersayang, aku mau kamu jangan sedih, karena kakak mulai dari sekarang akan menabung dan bila kita sudah dewasa nanti kakak akan membelikan kamu sebuah mobil yang bagus. Kamu tidak akan lagi duduk di rumah sendiri, kakak akan antar kamu keliling kota melihat pemandangan yang indah ya" Anak itu memeluk adiknya yang cacat dengar tetes air mata kasih. "Adik aku begitu mencintaimu" sang adik yang lumpuh itu memeluk erat kakaknya dengan mata penuh cinta. Oh alangkah indahnya. .
Bukan karena keinginan seorang anak gelandangan yang hendak menghadiahkan mobil mewah untuk adiknya yang membuat Roy tak dapat menahan haru pada saat itu juga, tetapi karena ketulusan kasih seorang kakak yang selalu ingin memberi yang terbaik bagi adiknya. Seandainya saya dapat menjadi kakak seperti itu.
Terkadang kita lupa dan seringkali tidak menyadari, bahwa terkadang adik sendiri atau saudara sendiri tidak pernah kita perhatikan, bahwa kita malah merasa tersaingi atau iri atau marah kepada saudara kita, padahal mereka sebenarnya membutuhkan bantuan dari kita. Mari kita mulai memberikan kasih dari emut di seberang lautan tampak tetapi gajah di depan mata tidak tampak.
Friday, November 18, 2011
Bab Terakhir
renungan dari teman FB :
Bab Terakhir
Beberapa bulan yang lalu saya membaca sebuah artikel tentang seorang wanita muda yang sukses, berusia 22 tahun, mati muda karena pesawat terbang yang ditumpanginya jatuh. Semakin saya membaca ulang artikel itu, semakin berat rasa hati saya karena dia meninggal di tengah kehidupannya yang semakin cemerlang. Yang juga membuat sedih adalah kenyataan bahwa dia meninggal sebelum menyelesaikan bab terakhir dari buku yang sedang ditulisnya………..
Sejauh ini apa yang sudah tertulis dalam buku Anda? Dan bagaimana akhir kisah dalam buku Anda?
Saat ini buku Anda sedang ditulis, dan Andalah pengarangnya. Setiap saat yang berlangsung, setiap hari yang muncul dan berlalu, halaman Anda sedang ditulis. Setiap kata yang Anda ucapkan, Setiap tindakan yang Anda lakukan, membentuk halaman demi halaman buku kehidupan Anda. Bagaimana kehidupan Anda dan bagaimana Anda memperlakukan orang lain juga menentukan halaman buku Anda, dari awal sampai akhir.
Tidak bisa diralat, mungkin bagian awal buku Anda belum ditulis dengan benar, karena kesalahan-kesalahan, atau keputusan yang tidak bijaksana -tetapi Anda bisa mengakhirinya sebagai sebuah bestseller, karena Anda adalah tokoh utamanya, dan Anda, dengan tindakan Anda saat ini dan nanti, akan mengontrol seperti apa jadinya bab terakhir dari buku Anda. Anda bisa menutupnya sebagai pemenang dengan melakukan hal yang Anda sukai dan tidak menganggap kehidupan Anda, dan kehidupan orang lain sebagai sebuah keniscayaan.
Sekarang mulailah dengan bab baru, bab yang akan memberi Anda dan orang lain senang ketika membacanya. Nikmatilah diri Anda seperti apa adanya dan nikmatilah apa yang Anda lakukan. Teruslah menulis dan jalanilah hidup Anda sepenuhnya…….
*********************
Hanya dari ketinggian orang dapat memandang jauh ke depan. Namun, untuk mencapai ketinggian itu orang harus menapaki satu demi satu anak tangga. Itulah perjuangannya. Orang yang mampu memandang jauh ke depan akan mampu pula memperhitungkan dengan cermat langkah-langkah menuju ke arah sana. Dan, setelah sampai ke sana maka ia akan mampu memandang lebih jauh lagi. Pandangannya ini akan bermanfaat bagi orang-orang di dekatnya atau bahkan lebih banyak lagi orang lain, selain dirinya sendiri. Sejatinya, itulah tumbuh-kembang kualitas manusia.
Bab Terakhir
Beberapa bulan yang lalu saya membaca sebuah artikel tentang seorang wanita muda yang sukses, berusia 22 tahun, mati muda karena pesawat terbang yang ditumpanginya jatuh. Semakin saya membaca ulang artikel itu, semakin berat rasa hati saya karena dia meninggal di tengah kehidupannya yang semakin cemerlang. Yang juga membuat sedih adalah kenyataan bahwa dia meninggal sebelum menyelesaikan bab terakhir dari buku yang sedang ditulisnya………..
Sejauh ini apa yang sudah tertulis dalam buku Anda? Dan bagaimana akhir kisah dalam buku Anda?
Saat ini buku Anda sedang ditulis, dan Andalah pengarangnya. Setiap saat yang berlangsung, setiap hari yang muncul dan berlalu, halaman Anda sedang ditulis. Setiap kata yang Anda ucapkan, Setiap tindakan yang Anda lakukan, membentuk halaman demi halaman buku kehidupan Anda. Bagaimana kehidupan Anda dan bagaimana Anda memperlakukan orang lain juga menentukan halaman buku Anda, dari awal sampai akhir.
Tidak bisa diralat, mungkin bagian awal buku Anda belum ditulis dengan benar, karena kesalahan-kesalahan, atau keputusan yang tidak bijaksana -tetapi Anda bisa mengakhirinya sebagai sebuah bestseller, karena Anda adalah tokoh utamanya, dan Anda, dengan tindakan Anda saat ini dan nanti, akan mengontrol seperti apa jadinya bab terakhir dari buku Anda. Anda bisa menutupnya sebagai pemenang dengan melakukan hal yang Anda sukai dan tidak menganggap kehidupan Anda, dan kehidupan orang lain sebagai sebuah keniscayaan.
Sekarang mulailah dengan bab baru, bab yang akan memberi Anda dan orang lain senang ketika membacanya. Nikmatilah diri Anda seperti apa adanya dan nikmatilah apa yang Anda lakukan. Teruslah menulis dan jalanilah hidup Anda sepenuhnya…….
*********************
Hanya dari ketinggian orang dapat memandang jauh ke depan. Namun, untuk mencapai ketinggian itu orang harus menapaki satu demi satu anak tangga. Itulah perjuangannya. Orang yang mampu memandang jauh ke depan akan mampu pula memperhitungkan dengan cermat langkah-langkah menuju ke arah sana. Dan, setelah sampai ke sana maka ia akan mampu memandang lebih jauh lagi. Pandangannya ini akan bermanfaat bagi orang-orang di dekatnya atau bahkan lebih banyak lagi orang lain, selain dirinya sendiri. Sejatinya, itulah tumbuh-kembang kualitas manusia.
Friday, November 04, 2011
Pertanyaan Riku
Berapa lagu yang diciptakan Beethoven dan Mozart?
wah ngga pernah hitung sih hihihi
Jadi aku browsing dan menemukan bahwa Beethoven menciptakan
hampir 400 tapi hanya 345 yang tercatat. Mozart: 600 lagu Schubert almost 1000 lagu.
Bach 524 lagu
wah ngga pernah hitung sih hihihi
Jadi aku browsing dan menemukan bahwa Beethoven menciptakan
hampir 400 tapi hanya 345 yang tercatat. Mozart: 600 lagu Schubert almost 1000 lagu.
Bach 524 lagu
Wednesday, November 02, 2011
Mimpi
4 hari lalu aku memimpikan seorang sahabat hati... ternyata aku rindu padanya.
Minggu pagi lalu (30 October) aku mimpi keluarga induk semangku. Dalam mimpiku aku mendapat kamarku yang dulu di rumahnya. Ah bagaimana kabarnya ya? Apakah masih hidup?
Hari Arwah 31 October, aku mendoakan Ratij Tedjojanti yang dipanggil Tuhan karena Bom Bali 2. Istirahatlah di sana Tih...dan aku akhir-akhir ini ingin pergi ke Ebisu Garden Place, tempat kita jalan bareng!
Sore kemarin (Senin 31 October) mama telepon, dengan suara riangya, mengucapkan terima kasih untuk kirimannya. Ahh, aku memang harus lebih sering mengirimnya.
Siapa lagi yang akan kutemui malam ini ya?
Aku percaya mimpi adalah sebuah pesan dari bawah sadarku.
Minggu pagi lalu (30 October) aku mimpi keluarga induk semangku. Dalam mimpiku aku mendapat kamarku yang dulu di rumahnya. Ah bagaimana kabarnya ya? Apakah masih hidup?
Hari Arwah 31 October, aku mendoakan Ratij Tedjojanti yang dipanggil Tuhan karena Bom Bali 2. Istirahatlah di sana Tih...dan aku akhir-akhir ini ingin pergi ke Ebisu Garden Place, tempat kita jalan bareng!
Sore kemarin (Senin 31 October) mama telepon, dengan suara riangya, mengucapkan terima kasih untuk kirimannya. Ahh, aku memang harus lebih sering mengirimnya.
Siapa lagi yang akan kutemui malam ini ya?
Aku percaya mimpi adalah sebuah pesan dari bawah sadarku.
Subscribe to:
Posts (Atom)