Kemarin ada seseorang teman yang menulis, "Sudahkah Anda berbuat baik hari ini?" Dan kujawab.... "Belum, seharian di rumah saja sih..."
Lalu kupikir ya kalau di rumah saja, tidak berinteraksi dengan orang lain, bagaimana bisa berbuat baik?
Tiba-tiba malam hari, tukang koranku mengebel untuk menagih uang langganan. Waktu kubuka pintu, hujan sudah membasahi semua lantai di teras lantai 4. Wah hujan lebat.
"Wah hujan, gokurosama..."
"Iya tiba-tiba saja....."
Lalu kubayar dia. "Kamu tidak bawa kappa (jas hujan)"
"Tidak... saya sangka hari ini sudah tidak akan hujan.... Mau ambil ke kantor jauh sih"
"Waduh kalau tidak ada jas hujan kan bisa basah kuyub...." Sedangkan dia membawa kertas-kertas pembungkus koran bekas yang harus dibagikan.
Lalu aku teringat ada jas hujan murah yang kubeli untuk persediaan jika terpaksa naik sepeda dalam hujan. Ukuran dewasa.
"Sebentar ya, mungkin ada jas hujan 100- yen an..."
"Tidak usah Miyashita san..."
Dan ketemu! Kuberikan padanya, dan berkata, "Tidak usah kembalikan karena itu murah kok... hanya 100 yen (padahal lebih dari 100 yen sekitar 500 yen...tapi aku tahu kalau tidka kubilang begitu dia tidak mau terima)
Sambil tersenyum dia mengucapkan terima kasih....
Ah, aku sudah berbuat kebaikan malam ini. Senang rasanya...
Baru setelah kututup pintu kubayangkan jika anakku bekerja part time menjadi loper koran di kemudian hari... lalu mengalami hal yang sama, tiba-tiba kehujanan....
Lalu Kai berkata....
"Emang berapa harganya...."
"100 yen"
"100 yen kan mahal...."
"Tidak mahal... tapi yang penting dia perlu....
Kita harus berbuat baik kepada siapa saja. Sehingga orang juga akan baik kepada kita... atau kepada anak-anak kita.
Lalu Riku berkata, "Iya aku tahu... harus selalu berusaha berbuat baik kan?"
Riku yang pemurah
Kai yang pelit dan kritis
ANak-anakku yang akan menghadapi hidup di masa depan yang lebih sulit lagi
Sudahkah Anda berbuat baik hari ini?
Thursday, April 25, 2013
Friday, April 05, 2013
Kurt Vonnegut
In his book Bagombo Snuff Box: Uncollected Short Fiction, Vonnegut listed eight rules for writing a short story:
- Use the time of a total stranger in such a way that he or she will not feel the time was wasted.
- Give the reader at least one character he or she can root for.
- Every character should want something, even if it is only a glass of water.
- Every sentence must do one of two things—reveal character or advance the action.
- Start as close to the end as possible.
- Be a Sadist. No matter how sweet and innocent your leading characters, make awful things happen to them—in order that the reader may see what they are made of.
- Write to please just one person. If you open a window and make love to the world, so to speak, your story will get pneumonia.
- Give your readers as much information as possible as soon as possible. To hell with suspense. Readers should have such complete understanding of what is going on, where and why, that they could finish the story themselves, should cockroaches eat the last few pages.
Dan nomor 7 & 8 itu aku banget!!! :D
Wednesday, February 20, 2013
Sejarah Nina Bobo
Sejarah Nama NINA pada lagu NINA BOBO
Pasti anda penasaran dengan nama nina pada lagu "Nina Bobo". Nina adalah anak blasteran Indonesia-Belanda yang lahir pada tahun 1871, nama lengkapnya Nina itu adalah Helelina Mustika Van Rodjnik. Ibunya orang jawa yang bernama Mustika dan bekerja sebagai seorang penari, bapaknya orang Belanda yang bernama Van Rodjnik dan bekerja sebagai Kapten.
Sejak kecil Helelina memang sangat sulit untuk tertidur, setiap mau tidur pasti saja dia menangis dan berontak-berontak. Nah buat mancing si Helelina buat tidur, ibu Mustika pun menciptakan suatu senandung nada. Lama kelamaan Helelina pun semakin terbiasa dengan senandung tersebut dan tidak akan tertidur sebelum senandung itu dinyanyikan. Karena kebiasaan ini Kapten Van Rodjnik menyuruh istrinya agar sekalian menciptakan lirik penenang agar Helelina dan Van Rodjnik bisa saling mengerti. Berhubung di rumahnya Helelina banyak nyamuk, maka dibuatlah liriknya sesuai dengan apa yang kita ketahui saat ini.
Di tahun 1875 Helelina mulai sakit - sakitan sejenis demam gitu, setiap malam dia selalu menangis. Sakitnya Helelina berkepanjangan dan pada akhirnya pada awal tahun 1878 Helelina pun meninggal di usianya yang ke-6, ibunya tidak bisa menerima kepergian Helelina. Seminggu setelah kepergian Helelina Kapten Van Rodjnik mendapati istrinya *Mustika* sedang menyanyikan lagu "Nina Bobo" itu di kamar mandi yang saranya menggema kencang.
Setelah di tanya Kapten, si istrinya bilang kalau dia mendengar suara Nina menangis disana dan dengan inisiatif dia menyanyikan lagu tersebut. Karena masih sedih ibu Mustika sering kali menyanyikan lagu itu bertahun-tahun di tempat yang sama hingga pada akhirnya pada tahun 1929 ia meninggal dunia. Setelah kematian Helelina dan bu Mustika, kini Kapten Van Rodjnik tinggal sendiri, pernah dia mendapati beberapa suara bayi nangis hingga akhirnya semua itu terbawa kedalam mimpi si Kapten. Hingga pada puncaknya di suatu malam si Kapten mendengar kembali tangisan anak kecil namun dia hiraukan begitu saja. Ketika tengah malem dia dibangunkan oleh anak kecil usia 6 tahun *mungkin Helelina* dan berkata "Papa.. ko papa ga nyanyiin buat Nina?" Sejak malam itu pikiran si Kapten terganggu dan kerap kali ia menyanyikan senandung lagu tersebut agar bisa menenangkan tangisan Helelina. bertahun-tahun ia menyanyikan senandung tersebut dikamarnya hingga akhir hayatnya.
sumber: http://www.sik-asik.com/2013/ 02/ inilah-sejarah-nama-nina-pada-l agu-nina.html
Pasti anda penasaran dengan nama nina pada lagu "Nina Bobo". Nina adalah anak blasteran Indonesia-Belanda yang lahir pada tahun 1871, nama lengkapnya Nina itu adalah Helelina Mustika Van Rodjnik. Ibunya orang jawa yang bernama Mustika dan bekerja sebagai seorang penari, bapaknya orang Belanda yang bernama Van Rodjnik dan bekerja sebagai Kapten.
Sejak kecil Helelina memang sangat sulit untuk tertidur, setiap mau tidur pasti saja dia menangis dan berontak-berontak. Nah buat mancing si Helelina buat tidur, ibu Mustika pun menciptakan suatu senandung nada. Lama kelamaan Helelina pun semakin terbiasa dengan senandung tersebut dan tidak akan tertidur sebelum senandung itu dinyanyikan. Karena kebiasaan ini Kapten Van Rodjnik menyuruh istrinya agar sekalian menciptakan lirik penenang agar Helelina dan Van Rodjnik bisa saling mengerti. Berhubung di rumahnya Helelina banyak nyamuk, maka dibuatlah liriknya sesuai dengan apa yang kita ketahui saat ini.
Di tahun 1875 Helelina mulai sakit - sakitan sejenis demam gitu, setiap malam dia selalu menangis. Sakitnya Helelina berkepanjangan dan pada akhirnya pada awal tahun 1878 Helelina pun meninggal di usianya yang ke-6, ibunya tidak bisa menerima kepergian Helelina. Seminggu setelah kepergian Helelina Kapten Van Rodjnik mendapati istrinya *Mustika* sedang menyanyikan lagu "Nina Bobo" itu di kamar mandi yang saranya menggema kencang.
Setelah di tanya Kapten, si istrinya bilang kalau dia mendengar suara Nina menangis disana dan dengan inisiatif dia menyanyikan lagu tersebut. Karena masih sedih ibu Mustika sering kali menyanyikan lagu itu bertahun-tahun di tempat yang sama hingga pada akhirnya pada tahun 1929 ia meninggal dunia. Setelah kematian Helelina dan bu Mustika, kini Kapten Van Rodjnik tinggal sendiri, pernah dia mendapati beberapa suara bayi nangis hingga akhirnya semua itu terbawa kedalam mimpi si Kapten. Hingga pada puncaknya di suatu malam si Kapten mendengar kembali tangisan anak kecil namun dia hiraukan begitu saja. Ketika tengah malem dia dibangunkan oleh anak kecil usia 6 tahun *mungkin Helelina* dan berkata "Papa.. ko papa ga nyanyiin buat Nina?" Sejak malam itu pikiran si Kapten terganggu dan kerap kali ia menyanyikan senandung lagu tersebut agar bisa menenangkan tangisan Helelina. bertahun-tahun ia menyanyikan senandung tersebut dikamarnya hingga akhir hayatnya.
sumber: http://www.sik-asik.com/2013/
Monday, January 28, 2013
Mimpi Tersambung
Aku pernah menulis mengenai mimpiku tentang Mama yang mengajak aku ke Bank untuk ambil duit 400$ di dua posting sebelum ini, dan ternyata itu ada "benar"nya.
Waktu mudik kemarin kami nyekar dua kali ke kolumbarium mama, dan terhanyut oleh suasana, papa terdiam di barisan kursi paling depan.
Dan dengan terisak berkata, "Mama sudah damai... sudah pergi.... dia sempat peluk aku dalam mimpi".
Aku dan novi memeluk papa dari belakang, lalu aku berkata, "Iya mama akhir-akhir ini tak datang lagi di mimpiku. Terakhir aku mimpi, mama bilang sesuatu tentang hutang kepada papa 400$....."
Lalu papa berkata:
"400 ribu... Aku yang berhutang sama mama. Mama punya koin uang luar negeri di kamar mandi. Lalu aku suruh simpan, nanti aku ganti deh pakai rupiah, itu kira-kira 400 ribu. Tapi aku belum kasih uang rupiahnya mama sudah meninggal...."
Entah, benar atau tidak cuma aku heran mengapa angkanya 400 dan jelas sekali mengenai uang. Dan bahwa itu merupakan kejadian benar yang masuk ke dalam mimpiku.
Ini merupakan mimpi kedua yang tersambung, atau yang beralasan yang aku alami akhir-akhir ini.
Sepertinya akan banyak lagi mimpi yang akan kutuliskan di sini?
Entahlah.....
Waktu mudik kemarin kami nyekar dua kali ke kolumbarium mama, dan terhanyut oleh suasana, papa terdiam di barisan kursi paling depan.
Dan dengan terisak berkata, "Mama sudah damai... sudah pergi.... dia sempat peluk aku dalam mimpi".
Aku dan novi memeluk papa dari belakang, lalu aku berkata, "Iya mama akhir-akhir ini tak datang lagi di mimpiku. Terakhir aku mimpi, mama bilang sesuatu tentang hutang kepada papa 400$....."
Lalu papa berkata:
"400 ribu... Aku yang berhutang sama mama. Mama punya koin uang luar negeri di kamar mandi. Lalu aku suruh simpan, nanti aku ganti deh pakai rupiah, itu kira-kira 400 ribu. Tapi aku belum kasih uang rupiahnya mama sudah meninggal...."
Entah, benar atau tidak cuma aku heran mengapa angkanya 400 dan jelas sekali mengenai uang. Dan bahwa itu merupakan kejadian benar yang masuk ke dalam mimpiku.
Ini merupakan mimpi kedua yang tersambung, atau yang beralasan yang aku alami akhir-akhir ini.
Sepertinya akan banyak lagi mimpi yang akan kutuliskan di sini?
Entahlah.....
Sunday, September 30, 2012
Mimpi ?
Kejadian pagi ini,
aku bermimpi?
Sebelum benar-benar terjaga, aku mendengar suara anak-anak, riuh rendah...
kupikir mimpi... tapi begitu nyata spt dari luar jendelaku
tapi kemudian kudengar anakku sesegukan, seperti mau menangis,
dalam tidurnya.
Lalu kubangunkan dia, dan bertanya ada apa?Apa dia di bully?
"Iya... dalam pesta olahraga, aku jatuh, dan teman-teman menyoraki"
Hmmm
apa bisa mimpiku dan mimpinya tersambung?
atau ataukah suara yang kudengar itu suara dari alam lain? Karena saat itu pukul 5 pagi, sudah pasti tidak ada anak-anak di luar jendelaku....
dan suara-suara itu memberitahuku untuk membangunkan anakku?
entah lah...
ah tapi riuh rendah anak-anak itu masih teringat di kepalaku, sampai saat ini
aku bermimpi?
Sebelum benar-benar terjaga, aku mendengar suara anak-anak, riuh rendah...
kupikir mimpi... tapi begitu nyata spt dari luar jendelaku
tapi kemudian kudengar anakku sesegukan, seperti mau menangis,
dalam tidurnya.
Lalu kubangunkan dia, dan bertanya ada apa?Apa dia di bully?
"Iya... dalam pesta olahraga, aku jatuh, dan teman-teman menyoraki"
Hmmm
apa bisa mimpiku dan mimpinya tersambung?
atau ataukah suara yang kudengar itu suara dari alam lain? Karena saat itu pukul 5 pagi, sudah pasti tidak ada anak-anak di luar jendelaku....
dan suara-suara itu memberitahuku untuk membangunkan anakku?
entah lah...
ah tapi riuh rendah anak-anak itu masih teringat di kepalaku, sampai saat ini
Saturday, September 01, 2012
papan marble dan macaroni
Pagi ini aku bisa duduk di sebelahmu ma.
Aku, papa dan kamu pergi ke sebuah tempat yang jauh, seperti villa.
Dapurnya besar, tapi sayang tempat cuci piringnya (sink)nya kecil sekali sehingga selalu membuat bajuku basah waktu mencuci piring.
Lalu engkau mengajakku pergi ke Bank. Kukatakan : kenapa musti sekarang? Kan jauh.
Lalu engkau berkata, "Aku mau mengembalikan uang papamu" (400$)
Tapi kita tidak jadi pergi karena ada tamu papa, dan kita harus menjamunya.
Dan entah bagaimana aku duduk di sebelahmu. Di situ lah keluar menu macaroni aneh,
yang agak rusak anyamannya, sehingga aku menganyam macaroni itu supaya lebih bagus.
(Dalam mimpi aku berpikir, betapa mama ingin membuat dapur besar dengan papan marble untuk tempat cuci piringnya) Ingin membangun rumah mewah dengan dapur yang besar.
Atau aku terbayang dapur mewah kita di London dulu, dan ingin kembali merasakannya?
Aku, papa dan kamu pergi ke sebuah tempat yang jauh, seperti villa.
Dapurnya besar, tapi sayang tempat cuci piringnya (sink)nya kecil sekali sehingga selalu membuat bajuku basah waktu mencuci piring.
Lalu engkau mengajakku pergi ke Bank. Kukatakan : kenapa musti sekarang? Kan jauh.
Lalu engkau berkata, "Aku mau mengembalikan uang papamu" (400$)
Tapi kita tidak jadi pergi karena ada tamu papa, dan kita harus menjamunya.
Dan entah bagaimana aku duduk di sebelahmu. Di situ lah keluar menu macaroni aneh,
yang agak rusak anyamannya, sehingga aku menganyam macaroni itu supaya lebih bagus.
(Dalam mimpi aku berpikir, betapa mama ingin membuat dapur besar dengan papan marble untuk tempat cuci piringnya) Ingin membangun rumah mewah dengan dapur yang besar.
Atau aku terbayang dapur mewah kita di London dulu, dan ingin kembali merasakannya?
Dan paginya aku kaget menerima pemberitahuan dari adikku bahwa papa dirawat di RS lagi :(
Friday, July 13, 2012
Pertemuan Singkat
Malam ini, tanpa angin tanpa hujan, tanpa ada ingatan apa-apa terhadapmu Ma....
Masih kurang dari 11 malam, aku sudah tertidur. Dan dalam tidurku aku sedang bermain komputer dalam gelap di kamar. Mama masuk dan berbaring di sebelahku. Lalu kutanya,
"Ada apa ma?"
Dia tidak jelas berkata apa, hanya seakan membicarakan pembantu yang akan mudik (mungkin karena menjelang ramadhan).
Dan aku terbangun karena suamiku pulang....
Ah, kenapa cuma sebentar ma?
Waktu itu kamu datang dalam mimpi juga hanya sekilas.... membantu aku pindahan.
Aku ingin bertemu lebih lama lagi Ma.... aku kangen....
Hampir 5 bulan kamu pergi ke rumah Bapa ya. Aku sudah bisa melupakan, tapi mungkin karena sebentar lagi aku akan pulang ke jkt ya. Dan tahu bahwa aku tidak bisa menemui wujudmu seperti dulu lagi ya, dan di bawah sadarku aku rindu kamu.
Ma, terima kasih untuk pertemuan tadi ya.
Kapan kita bertemu lagi?
Masih kurang dari 11 malam, aku sudah tertidur. Dan dalam tidurku aku sedang bermain komputer dalam gelap di kamar. Mama masuk dan berbaring di sebelahku. Lalu kutanya,
"Ada apa ma?"
Dia tidak jelas berkata apa, hanya seakan membicarakan pembantu yang akan mudik (mungkin karena menjelang ramadhan).
Dan aku terbangun karena suamiku pulang....
Ah, kenapa cuma sebentar ma?
Waktu itu kamu datang dalam mimpi juga hanya sekilas.... membantu aku pindahan.
Aku ingin bertemu lebih lama lagi Ma.... aku kangen....
Hampir 5 bulan kamu pergi ke rumah Bapa ya. Aku sudah bisa melupakan, tapi mungkin karena sebentar lagi aku akan pulang ke jkt ya. Dan tahu bahwa aku tidak bisa menemui wujudmu seperti dulu lagi ya, dan di bawah sadarku aku rindu kamu.
Ma, terima kasih untuk pertemuan tadi ya.
Kapan kita bertemu lagi?
Monday, May 21, 2012
Mau Coba ke Sini
GIANNI'S COFFEE N CAKE
Jl. Cihampelas No. 205
Bandung
Ph : 022.203.7702
Harga :
Framboisine Rp. 12.500
Black Forrest Rp. 12.500
Petit Choux Rp. 15.500
Tofu Amseuhah Rp. 12.500
Double Ekspresso (lokal ) Rp. 10.000
Double Ekspresso ( illy ) Rp. 12.500
Giannis Lemonia Rp. 14.500
Lime Squash Rp. 8.000
Tea Chammomille Rp. 10.000
Steak Glosis yg enak di Hegarmanah...
Ada cafe br buka Rocco jl progo itu enak jg sbelahnya mom's bakery ada roti2 gandum sehat tapi enak...
mie rica di kejaksaan,
baso malang bom jalan maulana yusuf sbelah praktek dr Kelly
Swike di Cibadak (buka malem2), es krim PT Rasa di jl. Tamblong, batagor Abuy di foodcourt San Francisco di jl. Lengkong Besar (buka malem2), es campur Pa Oyen di jl. Bungsu, ayam goreng Indrawati di jl. Lengkong Besar.
Jl. Cihampelas No. 205
Bandung
Ph : 022.203.7702
Harga :
Framboisine Rp. 12.500
Black Forrest Rp. 12.500
Petit Choux Rp. 15.500
Tofu Amseuhah Rp. 12.500
Double Ekspresso (lokal ) Rp. 10.000
Double Ekspresso ( illy ) Rp. 12.500
Giannis Lemonia Rp. 14.500
Lime Squash Rp. 8.000
Tea Chammomille Rp. 10.000
Steak Glosis yg enak di Hegarmanah...
Ada cafe br buka Rocco jl progo itu enak jg sbelahnya mom's bakery ada roti2 gandum sehat tapi enak...
mie rica di kejaksaan,
baso malang bom jalan maulana yusuf sbelah praktek dr Kelly
Swike di Cibadak (buka malem2), es krim PT Rasa di jl. Tamblong, batagor Abuy di foodcourt San Francisco di jl. Lengkong Besar (buka malem2), es campur Pa Oyen di jl. Bungsu, ayam goreng Indrawati di jl. Lengkong Besar.
Sunday, March 25, 2012
Blog Review?
Aku tahu namanya dari beberapa status teman di Facebook. Seorang yang energetik, dan mempunyai masalah jantung. Berkat mengintip beberapa tulisan teman-temannya, aku berhasil menemukan blognya...dan terkesima dengan tulisannya. Ah senang bisa mengenal seseorang seperti dia...meskipun dia baru saja dipanggil Tuhan. Rest in peace Ditta, my new blogfriend! I really enjoy reading your blog.
http://dittaville.wordpress.com/2010/04/24/now-or-never/
http://dittaville.wordpress.com/2010/04/24/now-or-never/
Sunday, January 22, 2012
Memaafkan Diri Sendiri!
Memaafkan Diri Sendiri!
Oleh: Anthony Dio Martin *
Ketika Lebaran tiba, ada seorang Bapak yang tampaknya kurang antusias. Padahal, puasa sudah ia lewati, dan seharusnya ini menjadi hari kemenangannya. Dari luar, ia tampak sibuk bersilaturahmi dan mengunjungi saudara-saudaranya. Pokoknya, ia mengikuti ritual Lebaran, namun hatinya, tidak disitu. Dan setelah beberapa hari Lebaran lewat akhirnya si Bapak ini berkeluh kesah pada seorang temannya. “Kenapa ya, kita sudah bermaaf-maafan, dan saya pun sudah meminta maaf maupun memaafkan orang yang salah pada saya”, katanya menghela nafas panjang, “Tetapi.. .tetap saja saya tidak merasakan adanya damai di hati saya”. Temannya yang mendengarkannya dengan tenang, berpikir sejenak lalu mengomentari, “Kawan, mungkin itu disebabkan karena kamu sendiri belum memaafkan dirimu!”
Begitulah para Pembaca. Tradisi maaf-memaafkan pada saat Hari Raya Lebaran yang menyehatkan secara mental dan spiritual ini, seringkali berwujud sebagai suatu seremonial belaka. Padahal, berbagai tulisan dan penelitan mengemukakan bahwa pemaafan, bukan saja diperintah oleh agama, tetapi secara psikologis, juga sangat menyehatkan.
Baru-baru ini, majalah populer psikologi terkenal di dunia yakni Psychology Today, menulis soal forgiveness ataupun pemaafan, khususnya soal pemaafan diri. Tulisan ini melansir kembali penelitian Stanford Forgiveness Project yang dipimpin oleh Dr.Luskin. Hasilnya, setelah 6 bulan belajar teknik dan filosofi memaafkan, mereka yang yang akhirnya betul-betul memaafkan, mampu hidup lebih sehat dan bahkan 70% merasa lebih bahagia. Menariknya, salah satu bagian dari proses pemaafan yang justru menjadi kuncinya adalah tatkala ketika dari sekitar 259 peserta penelitian ini belajar untuk memaafkan diri mereka terlebih dahulu.
MENGAPA MEMAAFKAN DIRI?
Seringkali dikatakan bahwa kunci memaafkan orang lain adalah memaafkan diri sendiri. Terkadang, kita bertemu dengan orang yang lebih mudah memberi ampunan dan maaf pada orang lain, tetapi terus-menerus menyiksa dirinya dengan kasalahan atau pun kegagalan yang pernah mereka lakukan di masa lampau.
Saya pun teringat kisah dalam film “Eat, Pray and Love” yang diperankan Julia Robert. Di kisahkan, dalam perjalanannya ke India, ia bertemu dengan seorang bapak bernama Richard dari Texas yang keluarganya hancur bahkan ia meceritakan kisah tragis tentang kesalahan yang ia perbuat terhadap keluarganya. Akibatnya, begitu lamanya si Richard ini tidak bisa berdamai dengan dirinya. Dan meski pun jauh-jauh dari Texas hingga ke India, Richard mengakui ia belum bisa memaafkan dirinya.
Mirip kisah ini, saya pun pernah mendengar konseling dari seorang wanita yang mengatakan bagaimana ia sulit memaafkan dirinya gara-gara menyebabkan ibunya stroke yang akhirnya meninggal. Ia mengatakan ketika bertahun-tahun yang silam ia pernah dilarang ibunya berhubungan dengan seorang pria. Karena kesal, ia pun membentak dan bertengkar hebat dengan Ibunya. Ternyata, malamnya si Ibu mengalami stroke dan beberapa hari kemudian, meninggal.
Seperti kisah-kisah di atas, kita bisa melihat bahwa, terkadang jauh lebih mudah bagi kita tatkala berhubungan dan memberi maaf pada orang lain. Namun, ketika ini telah menyangkut diri sendiri, tak mudah untuk melakukannya. Khususnya jika ini terkait dengan masa lalu atau kesalahan fatal, kebodohan, kelalaian, kecerobohan yang sangat sulit untuk kita lupakan.
Gary Zukav, salah seorang penulis pengembangan diri, dalam wawancara di acara TV Oprah Show beberapa tahun silam, menggunakan ilustrasi orang yang tidak memaafkan dirinya ibarat seperti orang yang terus memikul tas berat di pundaknya. Kemana-mana tanpa mau sedetik pun ia mau melepaskannya. Dengan cara memikul tas itu, menurut Zukav orang berpikir bahwa itulah cara untuk menghukum dan membebaskan dirinya dari kesalahan masa lalu. Tetapi, bukannya merdeka, justru orang semakin terpuruk dalam proses menghancurkan dirinya.
4 LANGKAH MEMAAFKAN DIRIMU!
Setiap orang berbuat salah, tetapi tidak semua orang mampu menerima dan berdamai dengan kesalahan itu. Ada baiknya kita pun belajar untuk mulai memaafkan diri kita sendiri, sebelum kita memaafkan dan meminta maaf dari orang lain. Dan semua proses itu harusnya dimulai dari keinginan kita untuk mengatakan, “Saya memberi izin pada diri Saya sendiri untuk sembuh”. Sebagai tips, ada empat langkah penting dalam rangka membereskan ‘tas-tas’ kesalahan masa lalu kita.
Pertama, membuka hati kembali. Ketika kita mulai diliputi rasa bersalah, rasa malu dan rasa penyesalan atas apa yang terjadi, kita mulai menyelimuti diri kita dengan kabut hitam. Tak mengherankan jika rasa penyesalan ini sering berakhir dengan pikiran ingin melukai diri sendiri, bunuh diri atau pun keinginan untuk mensabotase potensi maupun apa yang akan kita capai. Saya teringat dengan seorang Bapak tua pebisnis sukses yang setiap hari, dalam konselingnya berkata, “Buat apa saya sukses? Saya sukses tetapi anak saya narkoba. Ini gara-gara saya tidak menjaganya ketika masih kecil. Saya merusaknya demi ambisi saya”. Sebenarnya, si Bapak ini mestinya sadar mengulang-ulang kalimat semacam itu tidak akan ada gunanya. Jauh lebih baik bagi si Bapak ini untuk mulai berpikir, saatnya untuk STOP penghukuman diri ini dan memikirkan hal yang lebih baik dan lebih masuk akal untuk dilakukan.
Kedua, cobalah untuk mencintai diri kembali. Terkadang, apa yang membuat kita tidak bisa memaafkan diri adalah karena kita melihatnya dari posisi sekarang. Tetapi, jika kita kembali ke situasi waktu kejadian yang kita sesali terjadi, mungkin kita akan melihat bahwa kita tidak punya banyak pilihan atau tak jarang dalam kondisi yang terjepit. Akibatnya, kita pun terpojok untuk mengambil keputusan tersebut. Coba lah untuk melihat alasan lain yang mungkin bisa membuat diri Anda memaklumi bahkan mengerti, juga memaafkan diri Anda dalam situasi itu.
Ketiga, banyak orang berpikir bahwa dengan rasa bersalah atau rasa malu atau pun rasa penyesalan terus-menerus, ini berarti menunjukkan perasaan sayang kita. Inilah cara berpikir yang salah. Kita boleh merasa bersalah, tapi bukanlah berarti kita harus terus-menerus terjebak dalam rasa bersalah itu. Bisa jadi, orang yag kita buat salah pun, berharap kita menjadi bahagia dan tidak larut lagi dalam penyesalan dan penderitaan kita. Daripada hanya duduk menyesal, mungkin lebih baik kita arahkan rasa penyesalan itu dengan melakukan sesuatu yang lebih konkret dan positif.
Empat, mulailah melakukan sesuatu yang lebih positif. Ada seorang pemabuk yang pernah menabrak mati seorang bocah, akhirnya memutuskan untuk menghidupi keluarga bocah yang miskin itu. Bahkan, ia juga membangun panti asuhan untuk anak-anak yang kurang mampu. Begitu pula ada kisah seorang yang akhirnya menjadi dokter karena pernah menyebabkan cacat seumur hidup pada adiknya, gara-gara salah memberinya obat. Jadi pikirkanlah apa yang bisa dilakukan, daripada terus-menerus tenggelam dalam rasa penyesalan ini.
Akhirnya, semoga kita selalu ingat, sebelum kita minta maaf dan memaafkan orang lain, pastikan kita juga memaafkan diri kita sendiri!
* Anthony Dio Martin, Trainer, Motivator, Penulis buku-buku Bestseller
Oleh: Anthony Dio Martin *
Ketika Lebaran tiba, ada seorang Bapak yang tampaknya kurang antusias. Padahal, puasa sudah ia lewati, dan seharusnya ini menjadi hari kemenangannya. Dari luar, ia tampak sibuk bersilaturahmi dan mengunjungi saudara-saudaranya. Pokoknya, ia mengikuti ritual Lebaran, namun hatinya, tidak disitu. Dan setelah beberapa hari Lebaran lewat akhirnya si Bapak ini berkeluh kesah pada seorang temannya. “Kenapa ya, kita sudah bermaaf-maafan, dan saya pun sudah meminta maaf maupun memaafkan orang yang salah pada saya”, katanya menghela nafas panjang, “Tetapi.. .tetap saja saya tidak merasakan adanya damai di hati saya”. Temannya yang mendengarkannya dengan tenang, berpikir sejenak lalu mengomentari, “Kawan, mungkin itu disebabkan karena kamu sendiri belum memaafkan dirimu!”
Begitulah para Pembaca. Tradisi maaf-memaafkan pada saat Hari Raya Lebaran yang menyehatkan secara mental dan spiritual ini, seringkali berwujud sebagai suatu seremonial belaka. Padahal, berbagai tulisan dan penelitan mengemukakan bahwa pemaafan, bukan saja diperintah oleh agama, tetapi secara psikologis, juga sangat menyehatkan.
Baru-baru ini, majalah populer psikologi terkenal di dunia yakni Psychology Today, menulis soal forgiveness ataupun pemaafan, khususnya soal pemaafan diri. Tulisan ini melansir kembali penelitian Stanford Forgiveness Project yang dipimpin oleh Dr.Luskin. Hasilnya, setelah 6 bulan belajar teknik dan filosofi memaafkan, mereka yang yang akhirnya betul-betul memaafkan, mampu hidup lebih sehat dan bahkan 70% merasa lebih bahagia. Menariknya, salah satu bagian dari proses pemaafan yang justru menjadi kuncinya adalah tatkala ketika dari sekitar 259 peserta penelitian ini belajar untuk memaafkan diri mereka terlebih dahulu.
MENGAPA MEMAAFKAN DIRI?
Seringkali dikatakan bahwa kunci memaafkan orang lain adalah memaafkan diri sendiri. Terkadang, kita bertemu dengan orang yang lebih mudah memberi ampunan dan maaf pada orang lain, tetapi terus-menerus menyiksa dirinya dengan kasalahan atau pun kegagalan yang pernah mereka lakukan di masa lampau.
Saya pun teringat kisah dalam film “Eat, Pray and Love” yang diperankan Julia Robert. Di kisahkan, dalam perjalanannya ke India, ia bertemu dengan seorang bapak bernama Richard dari Texas yang keluarganya hancur bahkan ia meceritakan kisah tragis tentang kesalahan yang ia perbuat terhadap keluarganya. Akibatnya, begitu lamanya si Richard ini tidak bisa berdamai dengan dirinya. Dan meski pun jauh-jauh dari Texas hingga ke India, Richard mengakui ia belum bisa memaafkan dirinya.
Mirip kisah ini, saya pun pernah mendengar konseling dari seorang wanita yang mengatakan bagaimana ia sulit memaafkan dirinya gara-gara menyebabkan ibunya stroke yang akhirnya meninggal. Ia mengatakan ketika bertahun-tahun yang silam ia pernah dilarang ibunya berhubungan dengan seorang pria. Karena kesal, ia pun membentak dan bertengkar hebat dengan Ibunya. Ternyata, malamnya si Ibu mengalami stroke dan beberapa hari kemudian, meninggal.
Seperti kisah-kisah di atas, kita bisa melihat bahwa, terkadang jauh lebih mudah bagi kita tatkala berhubungan dan memberi maaf pada orang lain. Namun, ketika ini telah menyangkut diri sendiri, tak mudah untuk melakukannya. Khususnya jika ini terkait dengan masa lalu atau kesalahan fatal, kebodohan, kelalaian, kecerobohan yang sangat sulit untuk kita lupakan.
Gary Zukav, salah seorang penulis pengembangan diri, dalam wawancara di acara TV Oprah Show beberapa tahun silam, menggunakan ilustrasi orang yang tidak memaafkan dirinya ibarat seperti orang yang terus memikul tas berat di pundaknya. Kemana-mana tanpa mau sedetik pun ia mau melepaskannya. Dengan cara memikul tas itu, menurut Zukav orang berpikir bahwa itulah cara untuk menghukum dan membebaskan dirinya dari kesalahan masa lalu. Tetapi, bukannya merdeka, justru orang semakin terpuruk dalam proses menghancurkan dirinya.
4 LANGKAH MEMAAFKAN DIRIMU!
Setiap orang berbuat salah, tetapi tidak semua orang mampu menerima dan berdamai dengan kesalahan itu. Ada baiknya kita pun belajar untuk mulai memaafkan diri kita sendiri, sebelum kita memaafkan dan meminta maaf dari orang lain. Dan semua proses itu harusnya dimulai dari keinginan kita untuk mengatakan, “Saya memberi izin pada diri Saya sendiri untuk sembuh”. Sebagai tips, ada empat langkah penting dalam rangka membereskan ‘tas-tas’ kesalahan masa lalu kita.
Pertama, membuka hati kembali. Ketika kita mulai diliputi rasa bersalah, rasa malu dan rasa penyesalan atas apa yang terjadi, kita mulai menyelimuti diri kita dengan kabut hitam. Tak mengherankan jika rasa penyesalan ini sering berakhir dengan pikiran ingin melukai diri sendiri, bunuh diri atau pun keinginan untuk mensabotase potensi maupun apa yang akan kita capai. Saya teringat dengan seorang Bapak tua pebisnis sukses yang setiap hari, dalam konselingnya berkata, “Buat apa saya sukses? Saya sukses tetapi anak saya narkoba. Ini gara-gara saya tidak menjaganya ketika masih kecil. Saya merusaknya demi ambisi saya”. Sebenarnya, si Bapak ini mestinya sadar mengulang-ulang kalimat semacam itu tidak akan ada gunanya. Jauh lebih baik bagi si Bapak ini untuk mulai berpikir, saatnya untuk STOP penghukuman diri ini dan memikirkan hal yang lebih baik dan lebih masuk akal untuk dilakukan.
Kedua, cobalah untuk mencintai diri kembali. Terkadang, apa yang membuat kita tidak bisa memaafkan diri adalah karena kita melihatnya dari posisi sekarang. Tetapi, jika kita kembali ke situasi waktu kejadian yang kita sesali terjadi, mungkin kita akan melihat bahwa kita tidak punya banyak pilihan atau tak jarang dalam kondisi yang terjepit. Akibatnya, kita pun terpojok untuk mengambil keputusan tersebut. Coba lah untuk melihat alasan lain yang mungkin bisa membuat diri Anda memaklumi bahkan mengerti, juga memaafkan diri Anda dalam situasi itu.
Ketiga, banyak orang berpikir bahwa dengan rasa bersalah atau rasa malu atau pun rasa penyesalan terus-menerus, ini berarti menunjukkan perasaan sayang kita. Inilah cara berpikir yang salah. Kita boleh merasa bersalah, tapi bukanlah berarti kita harus terus-menerus terjebak dalam rasa bersalah itu. Bisa jadi, orang yag kita buat salah pun, berharap kita menjadi bahagia dan tidak larut lagi dalam penyesalan dan penderitaan kita. Daripada hanya duduk menyesal, mungkin lebih baik kita arahkan rasa penyesalan itu dengan melakukan sesuatu yang lebih konkret dan positif.
Empat, mulailah melakukan sesuatu yang lebih positif. Ada seorang pemabuk yang pernah menabrak mati seorang bocah, akhirnya memutuskan untuk menghidupi keluarga bocah yang miskin itu. Bahkan, ia juga membangun panti asuhan untuk anak-anak yang kurang mampu. Begitu pula ada kisah seorang yang akhirnya menjadi dokter karena pernah menyebabkan cacat seumur hidup pada adiknya, gara-gara salah memberinya obat. Jadi pikirkanlah apa yang bisa dilakukan, daripada terus-menerus tenggelam dalam rasa penyesalan ini.
Akhirnya, semoga kita selalu ingat, sebelum kita minta maaf dan memaafkan orang lain, pastikan kita juga memaafkan diri kita sendiri!
* Anthony Dio Martin, Trainer, Motivator, Penulis buku-buku Bestseller
Subscribe to:
Posts (Atom)
